Dosen Bahas Buku “Pada Suatu Musim Semi” Karya Guru Besar Unpad
  • UTU News
  • 03. 07. 2022
  • 0
  • 661

MEULABOH, UTU – Dosen dan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) bersama sivitas akademika secara nasional mengikuti bahasan dan peluncuran buku “Pada Suatu Musim Semi”, karya Prof. Deddy Mulyana, pada 30 Juni 2022, secara virtual dalam agenda webinar nasional.

Prof. Deddy Mulyana, MA.,Ph.D adalah Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad, Bandung. Webinar nasional yang bertajuk “Fiksi Dalam Perspektif Komunikasi” dan peluncuran buku, “Pada Suatu Musim Semi”, diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran Unpad).

Pembicara dalam webinar tersebut adalah Prof. Deddy Mulyana, MA.,Ph.D, Dr. Aam Amiruddin, M. Si, Dr. Septiawan Santana, M.Si, dan Maimon Herawati, S. Sos.,M. Litt.  Host adalah Preciousa Alnashava J, S.I. Kom.,M. Si. Webinar ini diadakan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-62, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

“Karya fiksi ini tidak hadir dalam ruang hampa, karena dia selalu membawa ideologi, membawa cerita, membawa tuturan. Dan buku “Pada Suatu Musim Semi”, menginspirasi kita semua”, kata preciousa Alnashava, diawal pada sesi tanya jawab.

Prof. Deddy Mulyana antara lain mengatakan, fiksi sebagai persuasi dan komunikasi ekspresi. Fiksi sebagai sarana untuk memenuhi salah satu dari fungsi komunikasi. “Dampak cerita dibandingkan dengan fakta, 5 persen mahasiswa mengingat angka-angka statistik, 63 persen mengingat cerita, sebut peneliti Jennefer Aakacr, yang dikutif Prof. Deddy Mulyana. Kalau novel-novel saya merasa diri pembaca terhibur dan tenang, itu sudah lebih dari cukup dan saya sangat senang”, ucap Prof. Deddy

Mengutip ungkapan Walter Fisher, Septiawan Santana memperkenalkan paradigma naratif bagi teori komunikasi, yang dikenal dengan teori naratif adalah 1). Manusia  seorang pencerita (homo narrans), 2). Asumsinya: setiap orang adalah pencerita, 3). Setiap individu menapaki eskalasi sosialnya melalui “jalan naratif”, 4). Berbagai keputusannya dilakukan dalam kerangka naratif.

Menurut Septiawan, selama ini, orang belajar memutuskan sesuatu berdasarkan fakta, prosedur dan teori-teori abstrak. Tapi, kita bersimpati, mengembangkan pemahaman kita tentang kehidupan, ketika kita mendengarkan banyak kisah. Kita cenderung berpikir sebuah cerita bagus ketimbang sebuah argument.

Kehidupan manusia modern banyak dikelilingi berbagai “kisah”. Setiap hari, kita berhadapan dan berhubungan dengan berbagai kisah, yang menyampaikan tentang keseharian hidup dan seterusnya. Kehidupan kita merupakan ekstrapolasi “konstruksi” naratif. Berbagai abstraksi teori itu merupakan kisah kehidupan, tambah Septiawan. (***)

Lainnya :